Laman

Tampilkan postingan dengan label Sidenreng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sidenreng. Tampilkan semua postingan

Pesan Nene' Mallomo

Salah satu petuah dari Nene’Mallomo mengatakan bahwa orang Sidrap harus mempunyai sifat Macca (pintar), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten), Warani (berani), Mapato (rajin), Temmapasilengang (adil) serta sifat Deceng Kapang (menghormati orang lain).

Nene’Mallomo juga merupakan penggagas falsafah hidup masyarakat Bugis Sidrap, yang terkenal dengan 5 (lima) M, yaitu

Sekilas Tentang Nene' Mallomo

Nene’Mallomo merupakan salah satu tokoh legenda (cendekiawan) di Sidenreng Rappang yang kemudian menjadi landmark Kabupaten Sidrap yang hidup di Kerajaan Sidenreng sekitar abad ke-16 M, pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng. Ada juga yang menyebutkan bahwa Nene’Mallomo lahir sebelum masa pemerintahan Raja La Patiroi, yaitu pada masa Raja La Pateddungi. Beliau meninggal Tahun 1654 M di Allakuang, dimana salah satu mottonya yang terkenal dan menjadi motivasi kerja adalah Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata.

Pada zaman dahulu, setiap kerajaan memiliki cendekiawan yang merupakan pembimbing masyarakat dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yakni

Sisilah Kerajaan Sidenreng Menurut Lontara "Mula Ri Timpa'na Tanae Ri Sidenreng"

Dalam buku lontara "Mula Ri Timpa'na Tanae Ri Sidenreng", halaman 147, konon Raja Sangalla, seorang raja di Tana Toraja (waktu itu Tana Toraja masih berada dalam wilayah kerajaan Luwu) mempunyai sembilan orang anak, yaitu :

1. La Maddaremmeng
2. La Wewanriwu
3. La Togellipu
4. La Pasampoi
5. La Pakolongi
6. La Pababbari
7. La Panaungi
8. La Mappasessu
9. La Mappatunru

Dalam kehidupan sehari - hari, Lamaddaremmeng selalu menekan terus serta mengintimidasi kedelapan adik-adiknya seperti adik tiri semua, sehingga sering terjadi perselisihan diantara mereka dengan kakaknya. Daerah kerajaan adik-adiknya dirampas oleh La Maddaremmeng.

Karena semua adik-adiknya sakit hati dan sudah tidak tahan lagi melihat perlakuan La Maddaremmeng, maka mereka