Laman

Arsitektur Rumah Bugis

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, Arsitektur rumah Bugis mendapat pengaruh kuat dari budaya Islam, seperti tampak pada mesjid dan langgar yang terdapat di setiap lingkungan masyarakat. Pada waktu silam, umumnya desa Bugis terdiri atas sekelompok rumah yang letaknya berdekatan dengan jumlah antara 10 sampai 200 rumah.

Rumah-rumah itu berderet-deretan menghadap selatan atau barat, tetapi bila ada sungai selalu membelakanginya. Bangunan rumah tinggal suku Bugis dapat dibedakan dari bentuknya, yang menunjukan status sosial penghuninya. Rumah penduduk biasa mempunyai dua timpa laja (atap bersusun dua), sedangkan

Penganut Toani To Lotang

Amparita, salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Sidrap, kini masih banyak warganya menganut kepecayaan Toani Tolotang. Sekitar 5000 warga di wilayah itu yang menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Ini merupakan penganut terbesar kedua setelah penganut Agama Islam yang jumlahnya lebih 200 ribu jiwa. Pemerintah Indonesia hanya mengakui lima agama, selebihnya dikategorikan sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena penganut Tolotang tidak mau disebut sebagai aliran kepercayaan, mereka menggabungkan diri dengan Agama Hindu. Itulah sampai sekarang dikenal dengan nama Hindu Tolotang.

Penganut Toani Tolotang ini juga mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan

Pesan Nene' Mallomo

Salah satu petuah dari Nene’Mallomo mengatakan bahwa orang Sidrap harus mempunyai sifat Macca (pintar), Malempu (jujur), Magetteng (konsisten), Warani (berani), Mapato (rajin), Temmapasilengang (adil) serta sifat Deceng Kapang (menghormati orang lain).

Nene’Mallomo juga merupakan penggagas falsafah hidup masyarakat Bugis Sidrap, yang terkenal dengan 5 (lima) M, yaitu

Sekilas Tentang Nene' Mallomo

Nene’Mallomo merupakan salah satu tokoh legenda (cendekiawan) di Sidenreng Rappang yang kemudian menjadi landmark Kabupaten Sidrap yang hidup di Kerajaan Sidenreng sekitar abad ke-16 M, pada masa pemerintahan La Patiroi, Addatuang Sidenreng. Ada juga yang menyebutkan bahwa Nene’Mallomo lahir sebelum masa pemerintahan Raja La Patiroi, yaitu pada masa Raja La Pateddungi. Beliau meninggal Tahun 1654 M di Allakuang, dimana salah satu mottonya yang terkenal dan menjadi motivasi kerja adalah Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata.

Pada zaman dahulu, setiap kerajaan memiliki cendekiawan yang merupakan pembimbing masyarakat dalam mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Ada 5 orang cendekiawan yang terkenal dalam perjalanan sejarah kerajaan Bugis, yakni

Silsilah Kerajaan Rappang


Big Kahuna Reef [Game Download]Fishdom [Game Download] 
Adapun Rappang berasal dari kata Rappeng, dalam bahasa Bugis, Rappeng berarti dahan/ranting yang hanyut. Dimana pada zaman dahulu, sungai yang mengalir di Rappang mempunyai lebar yang besar dan pada bagian hulunya banyak terdapat hutan belukar yang lebat. Dan apabila musim hujan telah tiba, maka dahan dari pohon-pohon itu hanyut dan membentuk daratan, menjadi tempat pemukiman dan kemudian diberi nama dengan Rappang.

SUSUNAN RAJA-RAJA RAPPANG