Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, Arsitektur rumah Bugis mendapat pengaruh kuat dari budaya Islam, seperti tampak pada mesjid dan langgar yang terdapat di setiap lingkungan masyarakat. Pada waktu silam, umumnya desa Bugis terdiri atas sekelompok rumah yang letaknya berdekatan dengan jumlah antara 10 sampai 200 rumah.
Rumah-rumah itu berderet-deretan menghadap selatan atau barat, tetapi bila ada sungai selalu membelakanginya. Bangunan rumah tinggal suku Bugis dapat dibedakan dari bentuknya, yang menunjukan status sosial penghuninya. Rumah penduduk biasa mempunyai dua timpa laja (atap bersusun dua), sedangkan
Rumah-rumah itu berderet-deretan menghadap selatan atau barat, tetapi bila ada sungai selalu membelakanginya. Bangunan rumah tinggal suku Bugis dapat dibedakan dari bentuknya, yang menunjukan status sosial penghuninya. Rumah penduduk biasa mempunyai dua timpa laja (atap bersusun dua), sedangkan